Dunia Kita Sekarang
Coba pikirkan sejenak — apakah hidup kita hari ini benar-benar lebih tenang, lebih bahagia, lebih sehat dari 10 tahun lalu? Atau justru sebaliknya? Inilah cara kami melihat dunia yang sedang kita huni — dan kenapa kami memilih jalan ini.
Sejak kami mengumumkan bahwa kami berhenti posting di YouTube, chat dan comment yang masuk sangat luar biasa banyaknya. Beberapa mungkin sudah paham. Tapi masih banyak yang bertanya, "Kenapa berhenti?"
Tulisan ini kami susun dari lubuk hati paling dalam. Agar teman-teman bisa mengerti apa yang sebenarnya ada di pikiran kami — kenapa kami mengambil keputusan dan jalan ini. Mungkin isinya akan terasa berat. Tapi inilah yang sedang terjadi.
Ini bukan ajakan untuk paranoid. Bukan ajakan untuk cut off dari semuanya.
Ini ajakan untuk melihat lebih jernih — hal-hal yang ada di sekitar kita, yang perlahan dianggap normal, yang tanpa sadar sudah merasuk ke dalam kehidupan kita. Ke dalam cara kita berpikir. Ke dalam tatanan masyarakat kita.
Dan di sinilah pentingnya kita berhenti sejenak, untuk melihat, untuk menyadari, dan untuk memilih bagaimana kita menyikapinya.
Karena ketika kami bilang ingin membangun ekosistem untuk membantu orang memiliki hidup yang sehat, bahagia, panjang umur, sejahtera, dan bermakna — itu bukan sekadar slogan. Itu kata-kata mendalam yang menjadi alasan kami menjalani ini semua.
Mari kita mulai dari yang paling dekat dengan tubuh kita sendiri
Ketika kita berbicara tentang hidup yang sehat, bukan hanya tentang makanan. Tapi tentang kualitas hidup kita secara menyeluruh — termasuk lingkungan di sekitar kita. Salah satunya adalah air yang kita gunakan.
Sedikit cerita, beberapa waktu lalu, kami sempat stay di salah satu kota terbesar di Indonesia. Kawasan yang bisa dikatakan premium. Tapi nyatanya, tubuh kami merasakan ada yang tidak beres. Airnya terlihat bersih, tidak berbau. Tapi mungkin karena kami sudah cukup lama tinggal di tempat dengan kualitas air yang baik, tubuh kami langsung merespons.
Kami akhirnya beli filter. Dan hanya dalam 5 hari, filter tersebut sudah hitam. Sehitam standar pemakaian 3-6 bulan.

Faktanya, air di Indonesia banyak yang tercemar logam berat, E. coli, limbah industri, dan berbagai zat berbahaya lainnya. Semua ini perlahan meresap masuk ke dalam tubuh kita — dari paparan yang terjadi setiap hari, secara terus-menerus, tanpa kita sadari.
Beberapa hari lalu, salah satu brand wellness global yang menjual pakaian olahraga premium sedang diinvestigasi oleh Texas Attorney General terkait keberadaan PFAS atau "forever chemicals" di produk mereka. Zat yang dalam riset dikaitkan dengan kanker, gangguan hormon, dan masalah kesuburan.
Perusahaan ini sudah berdiri sejak 1998. Selama bertahun-tahun mereka menggunakan PFAS di produknya. Mereka baru mengatakan phase out (stop menggunakan secara total) sejak 2023. Artinya selama 25 tahun, mereka menggunakan bahan yang mengandung PFAS. Dan phase out ini pun dilakukan karena tuntutan regulator — bukan karena care terhadap kesehatan konsumen. California dan New York passed undang-undang yang akan melarang sale pakaian dengan PFAS. Mereka phase out karena terpaksa comply. Dan sekarang insiden ini meledak karena sedang dalam tahap investigasi (jika tidak, mungkin kita juga tidak akan pernah tahu).

Ini bukan brand sembarangan. Salah satu brand paling populer di kalangan health enthusiast — yoga mat-nya, legging-nya, pakaiannya, bahkan jadi daily wear. Dan jujur, ini juga salah satu brand favorit Zahra. Kami sendiri juga pakai.
Jadi ketika berita ini keluar, kami kaget. Karena artinya, kami pun selama ini terpapar tanpa sadar.
Padahal kami sudah berusaha memilih yang lebih baik. Sudah berusaha hati-hati. Tapi ternyata tetap terlewat.
Dan kami share ini bukan untuk membuat kamu semakin overwhelmed. Tapi untuk menunjukkan bahwa kita semua sama — sedang belajar, sedang berusaha. Termasuk kami.
Kita tidak akan pernah bisa mengontrol semuanya. Tidak akan pernah bisa sempurna. Dan itu tidak apa-apa. Yang bisa kita lakukan adalah berusaha sebaik mungkin dengan apa yang kita tahu. Lalu terus belajar, dan terus memperbaiki.
Mungkin ada yang berharap negara bisa melindungi — tapi realitanya tidak semudah itu
Mungkin dari kita ada yang berpendapat kalau seharusnya ini tugas negara untuk melindungi warganya. Dari berbagai produk atau jasa, termasuk dari social media, yang sering menjadi fokus bahasan kita. Terlepas dari segala fenomena politik yang terjadi, realitanya tidak semudah itu.
Pada 2021, ketika Australia mencoba mengeluarkan undang-undang yang memaksa platform teknologi membayar media untuk konten yang mereka host, salah satu social media terbesar mematikan seluruh akses berita di Australia dalam satu hari. Bukan hanya berita — tapi juga halaman pemerintah, layanan darurat, organisasi amal, serikat pekerja. Semua lumpuh.
Singkat kata, Australia akhirnya mengalah. Undang-undangnya diubah untuk mengakomodasi tuntutan platform.
Lalu pada 2023, perusahaan yang sama melakukan hal yang sama di Canada. Bedanya kali ini pemerintah Canada menolak. Sampai hari ini, di 2026, warga Canada masih tidak bisa mengakses berita apapun di platform tersebut — dan kita tidak tahu endingnya akan seperti apa.
Dan mungkin banyak dari kita yang belum sadar, seberapa kuat mereka sebenarnya
Pernah nggak kamu sedang ngomong sesuatu, lalu buka social media, dan tiba-tiba dapat iklan barang yang persis kamu omongin tadi?
Yes, suara kita di-tracking. HP yang tergeletak di meja, sebenarnya sedang bekerja — tanpa kita sadari — memahami setiap percakapan kita. Ini semualah yang membuat mereka menjadi perusahaan data terbesar di planet bumi. Semua aliran data dan informasi dikuasai oleh segelintir orang.
Ini kita baru ngomongin soal text dan suara. Bisa dibayangkan betapa mengerikan dan powerful-nya mereka, jika semua ini ditambah lagi dengan data visual?
Dan faktanya, tahun lalu mereka meluncurkan teknologi baru — kacamata yang dilengkapi kamera dan AI. Bukan kacamata yang mencolok atau terlihat seperti gadget. Tapi kacamata biasa. Stylish. Yang bisa dipakai siapapun, ke mana saja, setiap hari.
Sekarang bayangkan. Seseorang bisa pakai kacamata ini, ketemu dengan kamu, ngobrol dengan kamu — dan kamu sama sekali tidak sadar sedang direkam. Wajahmu. Suaramu. Lokasimu. Semua terkirim langsung ke server mereka, diproses oleh AI.
Dan yang lebih mengerikan — orang yang pakai kacamata itu pun tidak selalu sadar kalau kameranya aktif setiap saat dan merekam.

Bisa dibayangkan betapa kuatnya pengaruh mereka. Dan semakin hari, kekuatan itu semakin besar — data semakin banyak, teknologi semakin canggih, ketergantungan masyarakat semakin dalam.
Di titik tertentu, mereka bukan lagi sekadar perusahaan. Mereka menjadi kekuatan yang bisa menekan negara. Bahkan mendikte arah dunia.
Negara-negara maju yang sistem pemerintahannya kuat saja kewalahan menghadapi mereka. Apalagi negara yang penuh dengan korupsi, kepentingan politik, dan masalah internal yang menumpuk.
Sebelum kita lanjut — coba berhenti sejenak dan tarik nafas
Ingat waktu kita kecil. Waktu kita semua belum pegang smartphone. Waktu masih sering main di luar. Waktu teman-teman kamu adalah orang-orang yang kamu temui langsung.
Sekarang coba bandingkan dengan hidup kamu hari ini. Dengan semua "kemudahan" teknologi. Dengan akses tak terbatas ke informasi. Dengan tatanan masyarakat yang terbentuk sekarang.
Apakah kamu lebih tenang?
Apakah kamu lebih bahagia?
Apakah kamu lebih sehat?
Atau justru lebih cemas, lebih gelisah, lebih stress, dan entah kenapa — hidup terasa sangat melelahkan?
Dan semua kekuatan itu, perlahan sedang diarahkan juga ke anak-anak kita
Mereka meluncurkan misalnya "social media for teens" — dengan tagline bahwa anak-anak kamu bisa browsing dengan aman. Tapi apakah sama seperti janjinya?
Faktanya, ada orang yang melakukan uji coba apakah benar-benar safe untuk anak-anak kita, sesuai janjinya. Mereka membuka akun baru khusus teen. Selama beberapa waktu mereka hanya like video-video kucing yang lucu. Tapi setelah beberapa waktu, feed-nya mulai dipenuhi gambar-gambar kurang pantas. Padahal tidak pernah sekalipun mereka like content seperti itu. Bahkan sudah mencoba report. Tapi faktanya, content-content tersebut terus disajikan.
Algoritma tidak bekerja berdasarkan apa yang anak kita suka. Algoritma bekerja berdasarkan apa yang ingin mereka tanamkan. Apa yang ingin mereka bentuk. Sejak dini.
Dan inilah yang jarang orang sadari.
Di usia-usia awal kehidupan, pikiran kita bekerja dominan di gelombang theta — kondisi di mana otak sangat mudah menyerap apapun yang masuk, langsung ke pikiran bawah sadar. Ini sebenarnya hal yang natural. Justru di fase inilah anak-anak belajar dengan cepat — bahasa, nilai, kebiasaan — semuanya terserap dengan mudah.
Tapi pertanyaannya — apa yang sedang mereka serap?
Kalau yang mengisi waktu mereka adalah lingkungan sekitar yang baik — maka yang tertanam juga hal-hal baik. Tapi kalau yang lebih banyak hadir adalah layar, dengan algoritma yang sudah dirancang untuk kepentingan tertentu — apa yang akan terbentuk di pikiran anak-anak?
Dan inilah yang mereka pahami. Siapa yang bisa menanamkan sesuatu di pikiran bawah sadar sejak kecil — punya pengaruh paling besar terhadap manusia itu seumur hidupnya.
Tidak hanya dari social media, tapi dari game juga sama.
Sekarang, game sudah bukan sekadar game. Dari game, banyak anak-anak masuk ke judi online. Data KPAI mengatakan lebih dari 190.000 anak dan remaja Indonesia terlibat judi online — dan 80.000 di antaranya masih di bawah 10 tahun. Lewat loot boxes, kasino virtual di dalam game, skin gambling. Semua disamarkan dengan warna-warna cerah dan karakter lucu yang menarik perhatian anak. Tapi nyatanya itu semua adalah kedok.

Belum lagi game online yang memungkinkan chatting, di mana ada orang-orang psycho yang chat tidak senonoh terhadap anak kecil yang tidak mengerti apa-apa, yang tidak jarang menjerumuskan anak-anak, tanpa diketahui oleh orang tua.
Jadi bagaimana anak-anak kita bisa tumbuh dengan baik — kalau sejak kecil mereka sudah di-program oleh sistem seperti itu? Apakah kita masih bisa mengharapkan anak kita tumbuh menjadi anak yang benar, atau bahkan berbakti?
Belum lagi layanan streaming yang perlahan-lahan menyelipkan content yang "menormalkan" hal-hal yang seharusnya tidak normal.
Mulai dari hal-hal yang terlihat sepele — makan ultra-processed food sebagai comfort, minum alkohol sebagai cara melepas stress. Sampai hal-hal yang lebih dalam — perselingkuhan yang dianggap sebagai hal yang wajar. Kekerasan yang dijadikan hiburan. Film-film pembunuhan menjadi trending. Jokes yang merendahkan harkat kemanusiaan. Atau nilai-nilai yang bertentangan dengan fitrah manusia.
Semua dikemas dalam cerita sehari-hari. Dalam film yang kita tonton santai di waktu istirahat. Dalam series yang kita marathon sebelum tidur.
Dan tanpa sadar, semua ini masuk ke pikiran bawah sadar kita.
Jadi tubuh dan pikiran kita — perlahan-lahan diracuni.
Bukan hanya makanan. Tapi juga apa yang kamu tonton. Apa yang kamu dengar. Apa yang kamu baca. Bahkan apa yang kamu scroll tanpa sadar — content yang lewat begitu saja, yang kamu pikir tidak kamu perhatikan, tapi sebenarnya tetap terserap. Dan ini semua membentuk siapa kamu.
Dan yang paling mengkhawatirkan — ketika kita hubungkan semuanya
Jadi platform teknologi lebih kuat dari negara. Data kita — termasuk kehidupan privat kita — dikuasai segelintir orang. Anak-anak kita sedang di-program sejak dini.
Tapi ada satu hal lagi yang mungkin belum banyak dibicarakan.
Beberapa billionaire mulai membeli lahan-lahan pertanian. Ada yang membeli 275.000 acres. Ada yang punya 462.000 acres. Dan 80% farmland yang disewakan di Amerika saat ini dimiliki oleh investor yang bukan petani.

Oh tapi kan di Indonesia beda, seseorang tidak boleh memiliki lahan seluas itu.
Iya, perorangan tidak boleh. Tapi semua itu ada jalannya dengan berbagai struktur legal. Dan apakah kita bisa menjamin peraturan itu sama selama-lamanya?
Dulu posisinya berbeda — tapi sekarang semuanya berubah
Dulu, untuk mereka bisa besar, mereka juga butuh tenaga kerja. Jadi tetap ada kepentingan untuk menjaga agar manusia bisa tetap produktif.
Tapi sekarang? Dengan hadirnya AI, dinamikanya mulai bergeser.
AI sudah bisa menulis artikel. Membuat design. Menulis kode. Menganalisa data. Banyak pekerjaan yang dulu terasa "aman" sekarang mulai tergantikan.
Bukan berarti AI bisa menggantikan semuanya. Ada hal-hal yang tetap membutuhkan manusia — empati, kreativitas, koneksi, wisdom. Tapi kenyataannya, kebutuhan akan tenaga kerja manusia secara keseluruhan akan semakin berkurang.
Tapi ini bukan ajakan untuk anti-teknologi
Mungkin ada yang bilang — segala sesuatu kan ada dua sisi. Ini tidak sepenuhnya salah.
Tapi kita perlu melihat dengan lebih jernih.
Pisau bisa digunakan untuk memasak, bisa juga untuk melukai. Api bisa menghangatkan, bisa juga membakar. Teknologi pun sama — ia hanyalah alat. Yang menentukan dampaknya adalah siapa yang menggunakannya, dan untuk tujuan apa.
AI, internet, bahkan platform digital — ketika digunakan untuk hal yang baik, hasilnya bisa sangat bermanfaat. Tapi ketika diarahkan untuk kepentingan yang salah, dampaknya bisa sangat merusak.
Dan yang perlu kita sadari — kita tidak selalu punya kendali atas bagaimana teknologi itu dirancang. Tapi kita punya kendali atas bagaimana kita menggunakannya.
Bukan berarti kita harus menghindari semuanya. Kembali hidup seperti zaman dulu. Menolak segala kemajuan karena takut.
Justru sebaliknya. Kita bisa memanfaatkan teknologi untuk kebaikan dan hal-hal positif — sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing, selama kita melakukannya dengan sadar. Dan dengan pemahaman akan apa yang sedang terjadi.
Inilah bagaimana kami melihat dunia — dan kenapa kami memilih jalan ini
Jujur, kami tidak tahu apakah semua yang kami pikirkan ini benar. Bisa saja kami salah. Dan sejujurnya, kami berharap kami salah.
Tapi dari apa yang kami lihat dan pelajari, rasanya susah untuk mengabaikan begitu saja.
Dan di titik ini, kami dihadapkan pada dua pilihan.
Pilihan pertama — tetap di YouTube. Terus membuat content. Terus berharap yang terbaik. Tapi tetap saja, YouTube bukan solusi nyata, dan juga sebenarnya tidak sesuai dengan value kami. Ini sudah kami bahas lengkap di tulisan sebelumnya kenapa "Kami Memutuskan Untuk Keluar Dari YouTube". Untuk yang belum baca, bisa baca setelah ini.
Pilihan kedua — mulai membangun sesuatu yang lebih nyata. Ekosistem yang bisa memberikan akses, bukan hanya awareness. Solusi, bukan hanya edukasi.
Karena kami percaya — untuk benar-benar bisa hidup sehat, bahagia, dan bermakna — butuh lebih dari sekadar tahu. Butuh tools yang membantu sehari-hari, akses ke makanan yang baik, produk yang aman, lingkungan yang sehat, dan komunitas yang saling menguatkan. Itu semua butuh ekosistem.
Dan kami memilih untuk mulai membangunnya.
Bukan karena kami ingin jadi besar. Bukan karena ingin mengubah dunia. Kami sadar, kami bukan siapa-siapa. Bukan Nabi Musa yang bisa melawan Firaun modern.
Tapi kami percaya pada satu prinsip — think globally, act locally. Kami tidak bermimpi mengubah dunia. Tapi kami bisa memulai dari lingkaran kecil kami sendiri. Dari komunitas kami. Dari orang-orang yang memilih untuk bertumbuh bersama. Dan dari situ, mudah-mudahan dampak positifnya bisa terus meluas.
Api yang tidak padam, hanya pindah
Dari kemarin, sejak kami post bahwa kami berhenti posting di YouTube, banyak sekali comment dan chat yang masuk. "Jangan stop." "Jangan menyerah." "Api yang dulu menyala, semakin redup dan akhirnya padam."
Kami tidak pernah menyerah. Tidak pernah padam.
Selama bertahun-tahun kami berupaya menyalakan api di tengah hutan rimba, untuk menerangi sekeliling. Tapi hutan terlalu besar. Terlalu gelap. Terlalu banyak penghalang lain. Api yang kami nyalakan, sebesar apapun, tidak pernah benar-benar bisa menyinari orang-orang yang membutuhkannya.

Sekarang kami pindahkan apinya ke tempat yang lebih terbuka, tanpa halangan. Walaupun apinya masih kecil, tapi cukup untuk menyinari orang-orang yang mau melihatnya, bahkan dari jauh sekalipun.
Tapi walaupun begitu, kami tidak bisa memaksa semua orang untuk menoleh ke arah api. Butuh upaya, sekecil apapun, walaupun hanya untuk menoleh dan membuka mata.
Dan di sinilah kami ingin mengajak kamu merenungkan sesuatu
Kami sudah menyediakan banyak hal secara gratis. Ebook Pola Makan Sehat. Update berkala melalui WA Channel. Kamu tinggal klik — tidak sampai 5 detik — untuk join. Dan kamu bisa cek update-nya secara berkala.
Ijinkan kami bertanya kepada kamu yang benar-benar merasakan content kami bermanfaat:
Apakah upaya itu benar-benar terlalu berat?
Apakah mengajak orang-orang untuk kembali ke hakikat dasar manusia — untuk "iqro," untuk membaca, merenungkan, dan menggunakan akal pikiran — itu sesuatu yang terlalu menuntut?
Padahal justru itulah yang membedakan kita dengan makhluk hidup lainnya. Kemampuan untuk berpikir. Untuk merenungkan. Untuk memilih dengan kesadaran.
Kami mengerti, ini sering terjadi tanpa disadari. Kita sudah terprogram untuk menerima apapun yang disodorkan di depan mata. Untuk scroll tanpa berpikir. Untuk konsumsi tanpa memilih.
Dan perlahan, tanpa kita sadari, kita mulai lupa — bahwa sebagai manusia, kita punya kemampuan untuk memilih sendiri. Untuk berpikir sendiri. Untuk menentukan apa yang masuk ke pikiran kita dengan kesadaran.
Kami hanya ingin membangun safe place
Tempat yang aman, di tengah dunia yang semakin mengkhawatirkan. Sebuah api yang, walaupun kecil, bisa menyinari orang-orang yang memilih datang mendekat. Memberikan kehangatan, di tengah dinginnya kegelapan.
Kami bukan ingin membuat kamu ter-disconnect dengan dunia sekarang. Dan kami tidak pernah men-judge siapapun. Karena semua ini sudah terbentuk secara sistemik.
Kamu yang seorang karyawan atau eksekutif di perusahaan ultra-processed food.
Kamu yang seorang dokter yang harus meresepkan obat standar dengan segala efek sampingnya.
Kamu yang seorang influencer, yang terkadang harus mengambil endorsement produk yang justru merusak kesehatan.
Dan pekerjaan lainnya yang juga berkaitan dengan ini semua. Semua hal dilakukan agar bisa "survive." Karena memang seperti inilah sistem yang sudah mengunci segala tatanan masyarakat kita. Kami sangat mengerti.
Tapi setelah membaca ini, kami harap kamu bisa mulai hidup dengan lebih sadar. Lebih memilih. Lebih mempertanyakan. Dan mulai mengambil langkah kecil untuk perubahan yang lebih baik.
Dan kami ingin membantu kamu memulai. Untuk semua orang — tanpa terkecuali — kami sudah menyediakan beberapa hal yang bisa kamu akses.
Ini semua bisa kamu peroleh tanpa perlu jadi member. Karena member AZ memang akan kami batasi — menjadi invitation only, untuk menjaga agar komunitas di dalamnya tetap terjaga kualitasnya. Tempat yang aman dan nyaman untuk bertumbuh bersama.
Penutup
Dunia di luar sana mungkin akan semakin sulit. Semakin berjalan waktu, semakin banyak hal yang di luar kendali kita.
Tapi kami percaya — dengan orang-orang yang tepat, di ekosistem yang tepat — kita tetap bisa menemukan hidup yang sehat, tenang, bahagia, dan bermakna.
Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Itu bukan hal kecil di zaman attention span yang semakin pendek. Semoga ini bisa menjadi tulisan yang bermanfaat buat kamu.
Untuk semua audience YouTube AZ, kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas support-nya selama ini.
Dan jika kamu merasa ada sesuatu yang resonance dalam tulisan ini — kamu tahu di mana mencari kami.
Semoga kita berjodoh dan bisa bertemu lagi di lain kesempatan.
Salam sehat dan bahagia selalu.
— Ardi & Zahra