Imlek, dan Cerita Latar Belakang Kami

Imlek, dan Cerita Latar Belakang Kami

Kami berasal dari dua dunia yang sangat berbeda. Ini cerita yang ingin kami bagikan di momen Imlek tahun ini.

Disclaimer: Tulisan ini adalah catatan pribadi kami. Bukan ajakan untuk berpindah agama, bukan debat tentang agama mana yang lebih baik, dan bukan representasi dari pandangan kelompok mana pun. Ini murni cerita perjalanan hidup kami yang ingin kami bagikan. Kami menghormati setiap keyakinan dan latar belakang, dan kami berharap tulisan ini dibaca dengan hati yang terbuka.

Kami berasal dari background yang sangat berbeda.

Saya lahir dan tumbuh besar di sebuah kota kecil di daerah. Saya dibesarkan di keluarga Tionghoa dengan kondisi ekonomi yang sangat terbatas. Sejak kecil, saya sudah harus membantu orang tua menjaga toko dengan ekonomi yang serba pas-pasan.

Pandangan saya tentang Islam sudah terbentuk sejak kecil — bukan sebagai sesuatu yang saya pelajari, tapi sebagai sesuatu yang saya takuti. Di daerah tempat tinggal saya, diskriminasi terhadap etnis Tionghoa sangat tinggi. Dan semuanya semakin parah saat kerusuhan tahun 1998. Orang-orang merampok dan membakar rumah-rumah milik orang Tionghoa. Rumah kakek saya dan keluarga lainnya juga menjadi korban. Rumah-rumah tetangga — tempat saya bermain sejak kecil — ludes terbakar.

Saat itu, saya masih di bawah 10 tahun. Tapi meskipun masih kecil, saya ingat dengan jelas betapa mengerikannya semua itu. Pasar di seberang rumah dijarah dan dibakar, panasnya terasa sampai ke dalam rumah kami. Saya tinggal di atas toko, bersama 12 orang dalam satu rumah. Kami semua harus tidur di kamar tengah, selalu dalam keadaan siap siaga untuk mengungsi jika situasi semakin memburuk. Setiap malam, saya melihat papa harus pergi meninggalkan rumah untuk ronda. Dan kami tidak pernah tahu apakah papa bisa pulang dengan selamat.

Pengalaman itu meninggalkan luka yang sangat dalam. Dan dari situ, tanpa saya sadari, kebencian itu tertanam.


Dua Dunia yang Bertemu

Dari awal bertemu Zahra, saya tahu kalau Zahra berasal dari keluarga yang terpandang. Sementara saya hanyalah seorang anak dari daerah kecil, merantau ke ibu kota sendirian, berjuang membangun kehidupan dari nol. Ada rasa tidak percaya diri. Apalagi saat itu, banyak sekali orang yang mendekati Zahra. Orang-orang kaya dengan harta yang berlimpah. Sementara saya masih jatuh bangun, kehidupan saya belum stabil.

Tapi semakin sering kami bertemu, semakin kami memahami satu sama lain. Kami berbagi pandangan tentang kehidupan. Dan saya merasakan sesuatu yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya — saya menemukan pasangan hidup. Sosok yang bisa saya ajak berbagi segalanya, melewati apa pun. Bersama-sama berjuang membangun kehidupan.

Tapi ada satu hal yang menjadi jurang pemisah terbesar di antara kami.

Kami berasal dari latar belakang yang sangat berbeda. Saya Tionghoa, sedangkan Zahra sangat mix — ada keturunan Jawa, Thailand, Prancis, dan lain-lain. Dari segi agama, kami juga sangat bertolak belakang. Zahra berasal dari keluarga keturunan Kyai Haji Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia. 

Sementara saya adalah seorang aktivis organisasi agama Buddha. Di masa kuliah, saya menjadi pengurus organisasi yang sangat aktif.

Dan lebih dari itu — luka masa kecil saya masih sangat segar. Pandangan saya terhadap Islam masih sangat terbatas oleh pengalaman yang saya alami dulu.


Satu Kalimat yang Mengubah Segalanya

Kami berdua memiliki keyakinan yang sangat kuat terhadap agama masing-masing. Saya berpikir, tidak mungkin saya menjadi Islam. Begitu juga sebaliknya, Zahra tidak mungkin berpindah agama.

Tapi dari sekian banyak percakapan kami, ada satu perkataan Zahra yang sangat menancap di hati saya.

"Islam itu ajaran yang damai. Kalau ada yang melakukan tindakan yang nggak benar, yang salah orangnya. Jangan salahkan agamanya."

Saat itu juga, saya teringat bagaimana banyak orang yang menyalahkan agama Buddha karena kasus Rohingya. Saya melihat bagaimana orang-orang dengan mudahnya menghujat agama Buddha atas kejadian tersebut. Tapi apakah benar agama Buddha yang salah? Apakah benar ajarannya yang mengajarkan itu? Atau karena ada orang-orang yang menyalahgunakan agama untuk kepentingan mereka sendiri?

Berarti kata-kata Zahra ada benarnya. Belum tentu Islam salah. Bisa jadi memang orangnya saja yang salah. Sama seperti kasus Rohingya.

Akhirnya, saya mulai mempelajari Islam lebih dalam. Saya mencoba memahami — bukan dari narasi yang selama ini saya terima, tapi langsung dari sumbernya. Dan pada akhirnya, saya memutuskan untuk menjadi mualaf.

Bukan karena agama saya sebelumnya buruk. Karena pada dasarnya, semua agama mengajarkan kebaikan. Tapi ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri saya yang selama ini tidak pernah menemukan jawabannya. Entah karena saya belum bertemu dengan guru atau tokoh yang tepat di perjalanan sebelumnya — pada akhirnya saya menemukan jawaban itu di dalam Islam.


Apa yang Sebenarnya Terjadi di Sekitar Kita

Ketika saya menjadi mualaf, reaksi dari lingkungan saya sangat keras. Mendadak saya dianggap sebagai orang yang telah "dicuci otaknya." Beberapa orang yang dulu saya anggap teman bahkan menjauhi saya. Semua penghakiman ini terjadi hanya karena saya memilih jalan yang berbeda dari apa yang mereka anggap "seharusnya."

Tapi saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka. Karena dulu, saya juga melihat Islam dari lensa yang sama — dari lensa ketakutan, dari lensa narasi yang saya terima tanpa pernah saya cek kebenarannya.

Dan inilah yang sebenarnya terjadi di sekitar kita.

Ada banyak kesalahpahaman yang terbangun bukan karena kita benar-benar memahami, tapi karena kita hanya menerima narasi yang disajikan kepada kita. Narasi yang seringkali diciptakan oleh segelintir orang yang punya kepentingan untuk memecah belah. Mereka menggunakan agama, suku, dan ras sebagai alat. Masyarakat dikotak-kotakkan. Dipaksa untuk memilih antara satu pihak atau pihak lain. Dan tanpa sadar, kita menjadi semakin intoleran, semakin mudah membenci, semakin cepat menghakimi — terhadap orang-orang yang bahkan tidak pernah kita kenal.

Ini bukan hanya terjadi pada satu kelompok. Saya dan Zahra, dari background yang bertolak belakang, mengerti betul bahwa ini terjadi di masing-masing kelompok. Di setiap suku. Di setiap agama. Banyak narasi dibuat untuk membentuk persepsi terhadap suatu kelompok tertentu. Padahal yang salah seringkali bukan kelompoknya — tapi hanya segelintir orang yang berupaya memecah belah.

Dan tanpa disadari, banyak dari kita yang terprovokasi menjadi bagian dari permainan ini. Karena semakin besar amarah kita, semakin fanatik tanpa toleransi, semakin besar kekuatan mereka. Dan semakin besar kerugian yang kita tanggung — bukan hanya secara sosial, tapi juga kesehatan, secara mental dan emosional, bahkan sampai ke perekonomian.

Semua perpecahan, kebencian, dan ketegangan ini menciptakan lingkungan yang penuh tekanan. Dan tekanan itu, sedikit demi sedikit, menggerogoti ketenangan kita, kesehatan kita, dan kualitas hidup kita.


Kita Semua Umat Manusia

Islam yang saya kenal bukanlah Islam yang menghakimi. Islam yang saya kenal adalah Islam yang damai. Penuh dengan toleransi. Saling menghargai. Sesuai dengan apa yang tertulis di Al-Qur'an — "Agamamu adalah agamamu, dan agamaku adalah agamaku." Kalau memang Islam sesempit yang digambarkan oleh segelintir oknum itu, tidak mungkin saya memutuskan untuk menjadi mualaf.

Kita semua bisa hidup tenang, bahagia, dan saling menghargai dalam keberagaman. Perbedaan bukan ancaman — perbedaan adalah kekayaan. Dan kita tidak perlu menjadi sama untuk bisa hidup berdampingan dengan damai.

Dan kami percaya, ini berlaku untuk semua agama dan semua kelompok. Setiap ajaran pada dasarnya mengajarkan kebaikan. Yang merusaknya adalah orang-orang yang menyalahgunakannya untuk kepentingan mereka sendiri.

Jadi kami ingin mengajak teman-teman semua — mari kita berhenti sejenak sebelum menghakimi. Berhenti sebelum melabel. Berhenti sebelum membenci seseorang hanya karena latar belakangnya. Belum tentu apa yang kita percayai tentang suatu kelompok itu benar. Bisa jadi itu hanya framing dari segelintir orang yang ingin memprovokasi.

Karena kalau kita mau jujur dan melihat lebih dalam — terlepas dari suku, ras, agama, dan latar belakang kita — kita semua adalah umat manusia. Kita semua ingin hidup yang lebih baik. Kita semua ingin dunia yang lebih damai.

Dan mungkin, langkah pertama menuju ke sana dimulai dari hal yang sederhana: berhenti menghakimi dan mulai memahami.

Disclaimer: Saya dan Zahra memilih Islam sebagai agama terbaik untuk kami, karena kami percaya inilah yang benar untuk kami. Tapi itu tidak berarti agama lain buruk. Semua agama mengajarkan kebaikan. Dan sebagai Muslim, kami percaya semuanya kembali kepada Allah SWT — bukan dari oknum-oknum yang justru memperburuk citra Islam.

Inilah cerita personal kami yang ingin kami bagikan di momen Imlek ini. Semoga ini bisa memberikan sudut pandang tambahan dari sisi lain, dan bisa membawa kedamaian.

Selamat Imlek dari kami kepada teman-teman yang merayakan.

恭喜发财, 身体健康, 万事如意!

Ardi & Zahra

3 kali dibaca

Peroleh update konten baru?

Kami kirim sesekali ke email kamu — tanpa spam.

Konten di AZ adalah semua konten yang disusun tanpa titipan kepentingan — untuk hidup yang lebih baik dan keberlangsungan planet. Kamu bisa support kami dengan bergabung sebagai member, atau ikut community buying.